Sabtu, 05 Mei 2012

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Waham



Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Waham, Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Waham, askep waham, Asuhan Keperawatan Waham, askep maslah waham kebesaran, kumpulan asujan keperawatan, contoh kasus askep waham, laporan pendahuluan LP  askep waham, contoh askep waham diagnosa keperawatan jiwa waham, penyebab penyakit waham, pengertian waham akan dibahas dibawah ini:
Pengertian Waham
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien (1).
Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung (2).
Proses terjadinya masalah
1. Penyebab
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.(3)
2. Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
Data yang perlu dikaji :
  1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
    • Data subjektif
      Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri
    • Data objektif
      Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.
  2. Kerusakan komunikasi : verbal
    • Data subjektif
      Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
    • Data objektif
      Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang
  3. Perubahan isi pikir : waham ( ………….)
    • Data subjektif :
      Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
    • Data objektif :
      Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung
  4. Gangguan harga diri rendah
    • Data subjektif
      Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
    • Data objektif
      Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup
Diagnosa Keperawatan
Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
Intervensi
Tujuan umum :
Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
Tujuan khusus :
  1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
    Tindakan :
    • Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
    • Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
    • Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
    • Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
  2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
    Tindakan :
    • Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
    • Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
    • Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari ? hari dan perawatan diri).
    • Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
  3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
    Tindakan :
    • Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
    • Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
    • Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
    • Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
    • Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
  4. Klien dapat berhubungan dengan realitas
    Tindakan :
    • Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
    • Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
    • Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
  5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
    Tindakan :
    • Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
    • Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
    • Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
    • Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
  6. Klien dapat dukungan dari keluarga
    Tindakan :
    • Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
    • Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar