Sabtu, 05 Mei 2012

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS


ASKEP MENINGITIS
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Meningitis ialah radang pada bagian meningen yaitu selaput otak dan saraf tunjang. Penyakit ini disebabkan oleh jangkitan virus atau juga bakteria.
Meningitis yang disebabkan oleh virus lazimnya kurang kronik dan pulih tanpa perawatan yang spesifik. Meningitis yang disebabkan oleh bakteria agak serius dan mungkin membawa kepada kerusakan otak, hilang pendengaran, kurang upaya pembelajaran dan membawa maut.
Pada permulaan penyakit dikalangan anak-anak, anak akan mengeluh demam dan sakit kepala. Anak berumur kurang dari setahun hanya menangis berlebihan, demam dan enggan minum. Semua tanda-tanda awal bagi anak berumur kurang dari setahun sama dengan tanda tanda penyakit lain seperti pneumonia, infeksi telinga, bronkiolitis dan infeksi saluran kencing
Oleh itu, hanya apabila dokter berpendapat bahwa seorang mengidap meningitis ia akan meminta agar lumbal punksi dilakukan. Lumbal punksi adalah prosedur pemeriksaan cairan selaput otak, dengan memasukkan jarum halus ke dalam tulang belakang pasien. Pemeriksaan ini hanya akan dilakukan apabila keadaan tidak membahayakan klien.
Doktor dapat membedakan dan menentukan sekiranya klien menghidap meningitis dan bukan penyakit lain setelah pemeriksaan cairan selaput otak dilakukan. Perawatan yang tepat dapat dimulai dari melakukan lumbal punksi. Tanpa perawatan, meningitis dapat mengakibatkan kesan buruk seperti lumpuh, cacat, retardasi mental dan tuli, bisu.
Penyebab penyakit meningitis ialah Enteroviruses, Kumpulan coxsackie A & B, Poliovirus, Mumps, Measles, Herps simplex, varicella, streptococcus piieumoniae, pneumokokus, neisseria meningitides atau meningokokus. Meningitis bakteria yang paling berbahaya adalah disebabkan oleh neisseria meningitides atau meningokokus. Kedua-dua bakteri ini tersebar melalui udara atau sentuhan langsung dengan pembawa atau pengidapnya. Dari saluran penafasan ia memasuki saluran darah dan menyebabkan septisemia (keracunan darah) dan terus ke otak lalu menyebabkan meningitis. Keadaan yang bersesak-sesak memudahkan lagi penyebaran penyakit ini. Meningitis meningokokus ialah satu penyakit serius dan dapat menyebabkan kematian.
A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arachnoid dan piamater di otak serta spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri dan virus meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan protozoa juga terjadi. (Donna D.,1999)
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam darah dan berpindah ke dalam cairan otak.
2. Klasifikasi
Meningitis Bakterial
Bakteri penyabab yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitides (meningococcal). Pada lingkungan yang padat seperti lingkungan asrama, barak militer, pemukiman padat lebih sering ditemukan kasus meningococcal meningitis.
Faktor pencetus terjadinya meningitis bacterial diantaranya adalah :
a. Otitis media
b. Pneumonia
c. Sinusitis
d. Sickle cell anemia
e. Fraktur cranial, trauma otak
f. Operasi spinal
Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system kekebalan tubuh seperti AIDS.
Meningitis Virus
Disebut juga dengan meningitis aseptic, terjadi sebagai akibat akhir/sequeledari berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus spereti campak, mumps, herpes simplex dan herpes zoster. Pada meningitis virus ini tidak terbentuk exudat dan pada pemeriksaan CSF tidak ditemukan adanya organisme. Inflamasi terjadi pada korteks serebri, white matter dan lapisan meninges. Terjadinya kerusakan jaringan otak tergantung dari jenis sel yang terkena. Pada herpes simplex, virus ini akan mengganggu metabolisme sel, sedangkan jenis virus lain bisa menyebabkan gangguan produksi enzim neurotransmitter, dimana hal ini akan berlanjut terganggunya fungsi sel dan akhirnya terjadi kerusakan neurologist.
Meningitis Jamur
Meningitis cryptococcal merupakan meningitis karena jamur yang paling sering, biasanya menyerang SSP pada pasien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari sistem kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi. Gejala klinisnya bisa disertai demam atau tidak, tetapi hampir semua klien ditemukan sakit kepala, nausea, muntah dan penurunan status mental
a. Purulenta & Serosa
Purulenta : penyebabnya adalah bakteri ( misalnya : Pneumococcus, Meningococcus ), menghasilkan exudat. Leukosit, dalam hal ini Neutrofil berperan dalam menyerang mikroba, neutrofil akan hancur menghasilkan exudat.
Serosa : penyebabya seperti mycobacterium tuberculosa & virus, terjadi pada infeksi kronis. Peran limfosit & monosit dalam melawan mikroba dengan cara fagositosis, tidak terjadi penghancuran, hasilnya adalah cairan serous
b. Aseptik & Septik
Aseptik : Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan lumbal pungsi, hasilnya negative, misalkan penyebabnya adalah virus.
Septik : Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan kultur lumbal pungsi hasilnya positif , misalkan penyebabnya adalah bakteri pneumococcus.
Faktor resiko terjadinya meningitis :
a. Infeksi sistemik
Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia, TBC, perikarditis, dll.
b. Trauma kepala
Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis cranii yang memungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui othorrhea dan rhinorhea
c. Kelaianan anatomis
Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran telinga tengah, operasi cranium
Terjadinya pe ↑ TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai berikut :
Agen penyebab → reaksi local pada meninges → inflamasi meninges → pe ↑ permiabilitas kapiler → kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial → pe ↑ volume cairan interstisial → edema → Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat → pe ↑ TIK
Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor.
Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan fleksi pada kepala klien yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh adanya iritasi meningeal khususnya pada nervus cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot bagian belakang leher, sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas.
Sedangan pada pemeriksaan Kernigs sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau iritasi sudah mencapai ke medulla spinalis bagian bawah.
Hidrosefalus pada meningitis terjadi karena mekanisme sebagai berikut :
Inflamasi local → scar tissue di daerah arahnoid ( vili ) → gangguan absorbsi CSF → akumulasi CSF di dalam otak → hodosefalus
Perbedaan Ensefalitis dengan meningitis :
Ensefalitis Meningitis
Kejang Kaku kuduk
Kesadaran ↓ Kesadaran relative masih baik
Demam ↓ Demam ↑
Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan mengalami Meningo-ensefalitis.
Penatalaksanaan medis meningitis :
1. Antibiotik sesuai jenis agen penyebab
2. Steroid untuk mengatasi inflamasi
3. Antipiretik untuk mengatasi demam
4. Antikonvulsant untuk mencegah kejang
5. Neuroprotector untuk menyelamatkan sel-sel otak yang masih bisa dipertahankan
6. Pembedahan : seperti dilakukan VP Shunt ( Ventrikel Peritoneal Shunt )

3. Etiologi
a. Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
Haemophillus influenzae .)1
Nesseria meningitides (meningococcal) .)2
Diplococcus pneumoniae (pneumococcal) .)3
Streptococcus, grup A .)4
Staphylococcus aureus .)5
Escherichia coli .)6
Klebsiella .)7
Proteus .)8
Pseudomonas .)9
b. Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna.
c. Jamur
d. Protozoa



4. Patofisiologi
Agen penyebab
Invasi ke SSP melalui aliran darah
Bermigrasi ke lapisan sub arachnoid
Respon inflamasi di piamater, arachnoid,CSF dan ventrikuler
Eksudat menyebar di seluruh saraf cranial dan saraf spinal
Kerusakan neurologist
( Donna D., 1999)
Selain dari adanya invasi bakteri, virus, jamur maupun protozoa, jalan masuknya kuman juga bisa melalui trauma tajam, prosedur operasi, dan abses otak yang pecah, penyebab lainnya adalah adanya rinorrhea, otorrhea pada fraktur basis cranii yang memungkinkan kontaknya CSF dengan lingkungan luar.
5. Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi adalah ;
a. Gangguan pembekuan darah
b. Syok septic
c. Demam yang memanjang
6. Manifestasi Klinis
Gejala yang khas dan umum ditampakkan oleh penderita meningitis diatas umur 2 tahun adalah demam, sakit kepala dan kekakuan otot leher yang berlangsung berjam-jam atau dirasakan sampai 2 hari. Tanda dan gejala lainnya adalah photophobia (takut/menghindari sorotan cahaya terang), phonophobia (takut/terganggu dengan suara yang keras), mual, muntah, sering tampak kebingungan, kesusahan untuk bangun dari tidur, bahkan tak sadarkan diri.

Pada bayi gejala dan tanda penyakit meningitis mungkin sangatlah sulit diketahui, namun umumnya bayi akan tampak lemah dan pendiam (tidak aktif), gemetaran, muntah dan enggan menyusui

7. Pemeriksaan Diagnostik
Lumbal Punksi
Lumbal punksi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan protein.cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan TIK.
Meningitis bacterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri.
Meningitis Virus : tekanan bervariasi, CSF jernih, leukositosis, glukosa dan protein normal, kultur biasanya negative
Glukosa & LDH : meningkat
LED/ESRD : meningkat
CT Scan/MRI : melihat lokasi lesi, ukuran ventrikel, hematom, hemoragik
Rontgent kepala : mengindikasikan infeksi intrakranial

8. Masalah Keperawatan
a. Resiko tinggi penyebaran infeksi
b. Resiko tinggi gangguan perfusi serebral
c. Resiko tinggi trauma
d. Nyeri
e. Gangguan mobilitas fisik
f. Gangguan persepsi sensori
g. Cemas
h. Kurang pengetahuan mengenai penyebab infeksi dan pengobatan
B. ASUHAN KEPERAWATAN .
1. Pengkajian
a. Aktivitas / istirahat ;
Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia
b. Sirkulasi ;
Riwayat endokarditis, abses otak, TD ↑, nadi ↓, tekanan nadi berat, takikardi dan disritmia pada fase akut
c. Eliminasi :
Adanya inkontinensia atau retensi urin
d. Makanan / cairan :
Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering
e. Higiene :
Tidak mampu merawat diri
f. Neurosensori ;
Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, “Hiperalgesia”meningkatnya rasa nyeri, kejang, gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, , hemiparese, hemiplegia, tanda”Brudzinski”positif, rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki
g. Neyri / kenyamanan :
Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh
h. Pernafasan :
Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas ↑, letargi dan gelisah
i. Keamanan :
Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios, menggigil, rash, gangguan sensasi.
j. Penyuluhan / pembelajaran :
Riwayat hipersensitif terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi penyebaran infeksi b/d stasis cairan tubuh
b. Resiko tinggi gangguan perfusi serebral b/d hipovolemia
c. Resiko tinggi trauma b/d kejang
d. Nyeri b/d adanya poses infeksi
3. Rencana Keperawatan
a. Diagnosa 1
1) Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan
2) Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat
3) Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi
4) Identifikasi kontak yang beresiko terhadap perkembangan proses infeksi serebral
5) Kolaborasi : Berikan terapi antibiotik IV sesuai indikasi: Penisilin G, Ampisilin, Kloramfenikol, Gentamisin, Amfoterisin B.
b. Diagnosa 2
1) Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar
2) Catat status neurologis dengan teratur
3) Pantau tanda – tanda vital
4) Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman seperti masase punggung, lingkungan yang tenang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut.
5) Berikan waktu istirahat yang cukup
6) Kolaborasi : Berikan obat sesuai indikasi. Seperti : steroid ; dexametason, metilprednison, Klorpomasin, asetaminofen ( baik oral maupun rektal.
c. Diagnosa 3
1) Pantau adanya kejang
2) Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantalan pada tempat tidur
3) Pertahankan tirah baring selama fase akut
4) Kolaborasi : Berikan obat sesuai indikasi. Seperti : fenitoin ( Dilantin), Diazepam (valium), fenobarbital (luminal).
d. Diagnosa 4
1) Berikan lingkungan yang tenang
2) Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting
3) Berikan posisi yang nyaman sperti kepala agak tinggi sedikit
4) Berikan latihan gerak aktif/pasif secara tepat
5) Kolaborasi : Berikan analgetik seperti : Asetaminofen, kodein.
4. Evaluasi
a) Proses infeksi teratasi
b) Trauma dapat dicegah atau diminimalkan
c) Rasa tidak nyaman dapat terkontrol
d) Kebutuhan akan aktivitas sehari-hari terpenuhi oleh diri sendiri atau dengan bantuan orang lain
e) Proses penyakit dan program pengobatan dsapat dipahami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar